Blog EntryWiwi, Penjaga Amanah dari Parung PanjangMay 8, '09 2:42 AM
for everyone
“Ini bukan untuk kita nak,” kalimat ini yang harus sering-sering keluar dari mulut Wiwi setiap kali anaknya minta diizinkan untuk mencicipi makanan yang tengah dimasaknya. Saat itu Wiwi tengah mengolah bahan makanan bergizi untuk gadis kecil bernama Ayu yang menderita gizi buruk. Disebut makanan bergizi, berarti harus memenuhi standar gizi yang wajib dimakan seseorang untuk meningkatkan pertumbuhan. Karenanya, makanan itu boleh dibilang sangat lengkap, antara lain nasi, sayur-sayuran, daging ayam atau sapi, telur, susu, serta buah-buahan.

Maka tak heran, puteri kecil Wiwi yang usianya tak berbeda jauh dengan gadis Ayu, sering dibuat iri karena ibunya selalu membuat masakan enak untuk anak orang lain. Sedangkan setiap hari ia hanya mendapat makanan ala kadarnya, sekadar ada nasi dan selembar kerupuk saja sudah bagus.

Ayu, 12 tahun, ditemukan relawan ACT di sebuah desa di Parung Panjang, Kabupaten Bogor beberapa bulan silam dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Di usianya yang menjelang remaja itu berat badah Ayu hanya sekitar 8 kg. Yang nampak dari Ayu hanya tulang terbungkus kulit yang pucat nan layu. Ayu tak sanggup berjalan karena kondisinya lemah. Kondisi perekonomian orang tuanya menjadi salah satu penyebab gadis kecil ini mengalami gizi buruk.

Dalam sebuah program bertajuk Malnutrition Rehabilitation Program (MRP), ACT memberikan bantuan perawatan kesehatan dan pemberian makanan tambahan secara intensif kepada anak-anak penderita gizi buruk di berbagai daerah. Tidak hanya Ayu di Parung Panjang, ribuan anak lainnya di berbagai wilayah dan propinsi pun masuk dalam daftar program ini. Misalnya anak-anak dan balita di Nusa Tenggara Timur (NTT), di Papua, bahkan di sejumlah daerah di DKI Jakarta.

Kembali ke Parung Panjang, Ayu hanyalah satu dari beberapa anak yang ditangani relawan-relawan di Parung Panjang. Wiwi mendapat tugas untuk secara intensif memberikan makanan tambahan bergizi untuk Ayu selama beberapa bulan setelah sebelumnya gadis kecil itu dirawat di rumah sakit. Setiap hari Wiwi harus membuat makanan dan mengantarkannya langsung ke rumah Ayu yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Jiwa kerelawanan Wiwi terpanggil melihat kondisi Ayu, karenanya ia tak pernah merasa bosan jika harus bertandang ke rumah gadis itu tiga kali sehari. “Saya juga yang menyuapi Ayu, saya nggak boleh meninggalkan begitu saja makanannya di rumah, takutnya nanti yang makan orang tuanya…” ujar Wiwi.

Namun disela kesibukannya melayani Ayu, Wiwi sering tak kuasa menahan perasaannya setiap kali anaknya memohon diberikan makanan yang sama dengan yang setiap hari ia masak untuk Ayu. Lagi-lagi Wiwi harus memberikan pengertian kepada anaknya bahwa makanan ini bukan untuk mereka, tetapi untuk Ayu. Pernah, kata Wiwi, anaknya marah –mungkin cemburu- karena ia tak pernah bisa memberikan makanan yang enak di rumah.  

Jerih payah Wiwi dan segenap relawan yang menangani kasus Ayu berhasil, dalam waktu kurang dari satu tahun, berat badan Ayu kini sudah mencapai 18 kg. Mata Wiwi berbinar melihat pertumbuhan pesat yang dialami anak yang didampinginya itu. Ini sebuah prestasi luar biasa, prestasi yang dibingkai oleh kekuatan menjaga amanah.

Wiwi, seorang relawan dari keluarga sederhana, penghasilan suaminya masih di bawah lima ratus ribu sebulan, namun tak sedikit pun ia punya keberanian untuk mengutak atik amanah yang diberikan kepadanya meski sang anak sering memelas. Wiwi, hanyalah satu potret seorang relawan yang terus berupaya menjaga amanah di tangannya sekuat ia mampu. Dan terbukti, sampai kini ia mampu menjaganya walau harus melawan gemuruh di dadanya. Bravo Wiwi! (Gaw)

Bayu Gawtama
Koordinator Jaringan dan Pemberdayaan
Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)

11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
edoaprianto wrote on May 8
saluut deh buat Ibu Wiwi yg mau menjadi relawan serta komitmennya untuk menjaga amanah...
ti2n wrote on May 8
Subhanallah... salut untuk Ibu Wiwi yang begitu amanah ...
binmustafa wrote on May 8
so, bagaimana keputusan mengenai mbak wiwi ???
kita belum putuskan kang...
kasihan, beliau terus tanya ke saya ?
jsattaubah wrote on May 8
Mas, ana bantu menyebarkan berita ini.
Siapa tahu di Baca oleh Pemda Kab Bogor dan Pemprov JABAR.
Jika mereka nyadar bahwa ALLOH akan meminta pertanggung jawaban akan hal ini.
ydiani wrote on May 8
subhanallah, ampe merinding mas
gawtama wrote on May 8
so, bagaimana keputusan mengenai mbak wiwi ???
kita belum putuskan kang...
kasihan, beliau terus tanya ke saya ?
sementara dari saya, itu sedekah aja dari SP!. tentang yg dari rini dan act, saya udah dapat gambarannya. nanti saya share japri ya rul
gawtama wrote on May 8
Mas, ana bantu menyebarkan berita ini.
Siapa tahu di Baca oleh Pemda Kab Bogor dan Pemprov JABAR.
Jika mereka nyadar bahwa ALLOH akan meminta pertanggung jawaban akan hal ini.
ups, gak usah ekstrim gitu mas... pemda udah tahu kok...
wishknew wrote on May 8
pemerintah kemana aja ya?
soeto wrote on May 11
asalamuaikum mas gaw. wah jadi ini jawaban ketika saya browsing dan tidak menjumpai postingan terbaru mas gaw yang inspiratip. blog barunya indah tapi tulisannya kekecilan ya ? salam kenal dari cah Tegal.
ahmadjauhari wrote on May 14
kadang masing sulit untuk berbuat lebih banyak untuk orang lain....tapi harus terus diusahakan....
ikatanilmu wrote on May 22
assalaamu'alaikumWrWb, rindu moslem blogger, baik sebelum imb terbentuk maupun sesudahnya. salam ukhuwah n salam ciaattt... v(=^_^=)/
Add a Comment
   
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help