|
Beberapa tahun silam saya pernah berbincang dengan seorang veteran perang kemerdekaan, Kong Ucan namanya. Saat itu, usianya sudah hampir delapan puluh tahun. Di halaman belakang rumahnya, kami berbincang sambil ia memerbaiki kandang ayamnya yang sudah rusak. Saat tengah memaku, salah satu jarinya tertusuk paku dan terluka. Darah bercucuran cukup banyak karena ujung jarinya sobek.
Mengagumkan, ia tak meringis sedikit pun. Dengan tenang ia menuju ke dalam rumah untuk mengambil obat luka, membalut luka itu kemudian melanjutkan pekerjaannya memerbaiki kandang ayam. Fragmen singkat itu memaksa saya mengajukan pertanyaan yang jawabannya di luar kemampuan saya mencerna sebuah petuah bijak dari seorang punggawa nasihat.
“Kena paku sampai berdarah begitu, engkong nggak kelihatan kesakitan?” tanya si lugu ini.
“Engkong pernah tertembus peluru di sini...” sambil menunjuk bagian atas kanan dadanya mendekati persendian antara badan dan lengan. “juga disini…” kali ini Kong Ucan menunjukkan bagian pahanya, pantas jalannya agak kurang normal. “Kamu lihat, tertembus peluru dua kali alhamdulillah engkong masih hidup, masih berdiri, sehat, normal, dan tak kurang satu apapun...”
Saya menghela nafas sekali, kemudian, “Jadi kalau hanya tertusuk paku dan berdarah, kenapa engkong harus meringis kesakitan?”
Cukup! Sampai di kalimat itu saya sudah bisa memahami maksud Kong Ucan. Meskipun perlu waktu beberapa menit bagi saya untuk mencernanya, tetapi saya tahu Kong Ucan ingin memberi saya satu pelajaran penting dalam kehidupan ini. Seburuk apapun kejadian yang kita alami saat ini, sesakit apapun rasanya, jangan pernah cengeng, menangis atau bahkan putus asa. Sesungguhnya sebelumnya kita pernah juga mengalami kenyataan yang lebih buruk, kesakitan yang lebih memilukan dari yang sekarang dialami. Jika dulu kita begitu tangguh, bahkan kita masih hidup, artinya kita telah mampu melaluinya.
Jika pun sakit kali ini yang paling memilukan, juga tak perlu bersedih berlarut-larut. Boleh jadi di depan sana kita akan bertemu dengan keperihan yang lebih menyakitkan, dan kesakitan kali ini sebagai ajang latihan menghadapi seberat apapun cobaan di masa datang.
Seperti Kong Ucan, paku lebih kecil dari sebutir peluru panas. Ia hanya merobek ujung jari, padahal timah panas pernah dua kali menembus bagian tubuhnya. Ia tak lagi meringis akibat luka terkena paku karena pernah merasakan kesakitan yang lebih dalam sebelumnya. “bekas luka ini akan selalu mengingatkan, bahwa engkong pernah teramat tangguh menjalani kehidupan ini…”. (Gaw, dedicated for my best friend, Nurul Nurna).
www.solifecenter.com
 | juicemelon wrote on Apr 16, '09, edited on Apr 16, '09 Sy dulu pernah merasa sangat terluka dan tidak sepenuhnya sembuh sampai sekarang. Itu menjadikan saya sedikit khawatir sesekali. Kalau seandainya nanti di masa depan saya mengalami hal yang sama dengan yang membuat saya sakit dulu, apa iya saya bisa melewatinya lagi? sekarang aja belum sembuh. Apa nanti malah gak lebih parah?
Pikiran itu muncul klo sy lg futur sih pak, pas jauh dr Allah.. Eh, ketika baca ini, sy jd malu sm kang ucan.... InsyaAllah kalau saya sakit pasti bisa sembuh kan ya? hehehe |
 | I am just a human beeing who feels pain when get hurt. Sometimes it makes me scream or cry.
|
 | wikan wrote on Apr 16, '09 |
 | Tulisan yang membangunkan kita semua. |
 | dponz wrote on Apr 16, '09 Adakalanya kita lelah dengan episode hidup ini. Tulisan ini membantu jiwa-jiwa kita untuk tak pernah kering dan lelah menghadapi hidup yang sesaat ini ^_^ thanks for share ya pa.. |
 | Makin banyak pengalaman memang membuat orang menjadi semakin bijak dan arif |
|