Blog Entry“Maaf, Saya Selingkuh…” Apr 8, '09 2:33 AM
for everyone
Pernah mendengar kalimat ini? Tapi semoga tiga kata ini tidak keluar dari mulut pasangan kita. Sebab, bisa dipastikan pahit terdengarnya dan perih dirasa. Siapapun orangnya di dunia ini tidak ada yang pernah ingin mendengar kalimat “Maaf, saya selingkuh…” dari suami atau isterinya sekalipun itu berupa kejujuran.

Ya, seringkali kita mendengar sebuah tuntutan kejujuran dari pasangan masing-masing. Seorang suami menuntut agar isterinya senantiasa jujur dan tidak menyembunyikan apapun di depan dan belakangnya, begitu pun sang isteri memiliki tuntutan yang sama agar suaminya menghadiahi kejujuran setiap hari baginya, baik di rumah terlebih di luar rumah. Tapi kalau mau jujur, bukan kejujuran macam ini yang diharapkan.

Jika seorang suami, tiba di rumah sambil menunjukkan wajah penyesalan kemudian berterus terang kepada isteri tercintanya bahwa ia selingkuh. Bila seorang isteri tiba-tiba menangis, tak sanggup menatap mata suaminya kemudian ia menubruk dada sang suami dan sesegukan berkata, “Bang, maafkan adik… “

Bukan soal berapa lamanya waktu perselingkuhan, sehari dan sepuluh tahun tetaplah sama sakitnya. Bukan pula tentang berapa kali seorang suami selingkuh, sekali dan seribu kali tetap membuat sang isteri bergemuruh. Berapa banyak perempuan yang bunuh diri setelah dikhianati suaminya, tak sedikit lelaki yang kalap mengetahui isterinya tak setia. Sebagian lainnya stress atau bahkan gila, sebagian lagi memilih berpisah.

Bagi seorang suami atau isteri yang selingkuh, berat untuk mengakui kekeliruannya. Beragam perasaan berkecamuk di dadanya setiap kali hendak berterus terang kepada pasangannya. Satu langkah terbaik telah ia lakukan dengan mengakhiri perselingkuhannya, namun kemudian apakah langkah berikutnya ia mampu melaluinya? Yakni berterus terang kepada sang kekasih bahwa ia pernah berbuat selingkuh.

Sebuah dilema, jika tidak berterus terang tetapi pasangan selalu menuntut kejujuran. Namun jika diberikan kejujuran yang semacam ini, pasti sakitnya bukan hanya di telinga, bisa menembus sampai ke hati. Atau biarkan saja episode kelam itu terkubur dalam-dalam tanpa perlu digali ke permukaan, untuk menyesalinya dan kemudian membina kembali pernikahan yang sempat ternoda.

Lebih berat lagi tentu bagi seorang isteri atau suami yang mendengar pengakuan jujur pasangannya. Benar, jika ia selalu menuntut agar pasangannya bersikap jujur. Tapi memang bukan kejujuran setelah melakukan kesalahan semacam ini yang diinginkannya. Melainkan kejujuran yang senantiasa dikedepankan sebelum mengambil langkah apapun.

Sobat keluarga, kita pasti merasa berat bila harus berkata jujur, “maaf, saya selingkuh...”. Namun jauh lebih berat bagi pasangan kita yang akan mendengarnya. Sekeras batu hati yang dimilikinya akan serta merta meleleh, segunung kebesaran jiwanya tak mampu menampung rasa yang bergemuruh. Mari menata kembali langkah kita, agar tak perlu ada air mata penyesalan dan air mata amarah. (gaw, pesan untuk diri sendiri)

http://solifecenter.com 

21 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dponz wrote on Apr 8
sedih kalo siapapun mesti jujur dengan kalimat itu...sama2 sakit ati.
vi3nzz wrote on Apr 8
lalu kalau sudah terjadi, lebih baik jujur atau biarkan saja terpendam kang ?

yuniezalabella wrote on Apr 8
Aduh ...gak mau dihadapin sama situasi kayak gitu....sakit euy
binmustafa wrote on Apr 8
jadi keinget seorang kawan.....
eluelugwgw wrote on Apr 8
inget infotaiment td pagi,,,serentak pd nayangin ttg itu
ime558 wrote on Apr 8
kalo ternyata terjadi yang jelas harus bertobat nasuha, minta ampun kepada Allah SWT, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi...

tetapi kalo untuk berkata jujur, melakukan pengakuan dosa, dengan kemungkinan besar bahwa pihak yang mendengar akan sakit hati mendatangkan amarah, saya tidak yakin apakah itu memang harus dilakukan... *www.bingung.com*
yang paling baik yah jangan pernah coba berselingkuh
genkeis wrote on Apr 8
nice sharing mas :)
agussur wrote on Apr 8
kasus berat mas....
bundaelly wrote on Apr 8
DAri pada selingkuh mending poligami sekalian? Ups!
mbaktyas wrote on Apr 8, edited on Apr 8
DAri pada selingkuh mending poligami sekalian? Ups!
ini komen nya nakal2 ga jelas :D

semoga keikhlasan itu ada ketika kelak itu terjadi.. tapi kita jangan pernah minta itu terjadi..
bundaelly wrote on Apr 8, edited on Apr 8
Walah... jeng sri, eh jeng tyas, eh jeng shinta... ngomentin koment orang! hehehe
aishachan wrote on Apr 8
Mmm..mendingan berusaha untuk setia =)
imazahra wrote on Apr 10
Ukh!
qie06 wrote on Apr 10
No comment "(
upiamriani wrote on Apr 13
gawtama said
Mari menata kembali langkah kita, agar tak perlu ada air mata penyesalan dan air mata amarah.
artinya tidak perlu ada selingkuh kan ??
setuju.. :)
rullyeducator wrote on Apr 13
ciptakan keharmonisan dan kebahagiaan dlm rumah tangga, dan panggillah pasangan anda dgn kata yg manis dan mbuat hatinya senang ketika dipanggil. [iya,.kan Om Gaw..]
gawtama wrote on Apr 16
[iya,.kan Om Gaw..]
iyaaaa... he he
gawtama wrote on Apr 16
jadi keinget seorang kawan.....
bukan saya kan kang iroel?
gawtama wrote on Apr 16
vi3nzz said
lalu kalau sudah terjadi, lebih baik jujur atau biarkan saja terpendam kang ?
kadang jujur menyakitkan ya?
gawtama wrote on Apr 16
qie06 said
No comment "(
gimana kalo dibalik: COMMENT: NO!
niningdwie wrote on Jun 16
Klo laki2 ketauan selingkuh gampang mas, kan bisa poligami..
Klo wanita ketauan selingkuh, masuk penjara kali yaaaa :))
Add a Comment
   
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help